Underutilized Crop Research Center (UCRC) Universitas Brawijaya bersama Fakultas Pertanian UB mengadakan A Field WorkshopCurrent and Future Status of Bambara Groundnut” di ruang Sidang lantai 2 FP UB pada Selasa (11/4/2017). Kegiatan tersebut selain di isi dengan presentasi dan diskusi juga ditambah dengan rangkaian kunjungan lapang di Malang, Gresik dan Bangkalan. Workshop dibuka oleh Dekan FP UB, Profesor Nuhfil Hanani AR dan Director UCRC UB Profesor Kuswanto dan dihadiri oleh 15 peserta dari Universitas Muhammadiya Gresik, Universitas Trunojoyo Madura, Institut Pertanian Bogor, Nottingham University, Kasetsart University dan Universitas Padjajaran.

Bambara Groundnut memiliki berbagai nama yang berbaur dengan budaya lokal seperti kacang bogor, kacang tanah, kacang menak, kacang nagara, kacang ercis dan kacang arberi. Sejarang penanaman dan penyebarannya terdapat diberbagai wilayah Indonesia. Perhatian terhadap bambara groundnut hingga saat ini masih sangat minim, dari pemerintah maupun peneliti. Dalam panennya, produktivitas dari bambara groundnut dapat menghasilkan lima hingga tujuh ton per hektar dimana satu kilogram benih dapat menghasilkan kurang lebih 100 kilogram polong segar. Rendahnya harga penjualan dan area penanaman menjadi permasalahan yang harus dipahami bersama. Karena kedepannya kacang tersebut sangat berpotensi menjadi sumber pangan lokal, dapat dikembangkan agar hasilnya tinggi dengan jangka panen yang cepat. Tidak menutup kemungkinan, adanya standar teknologi panen pada lokasi spesifik sekaligus diversifikasi produk akhir. Hal tersebut terungkap saat presentasi oleh Noladhi Wicaksana, Ph.D dari Unpad beserta Dr. Budi Waluyo dari FP UB yang mengetengahkan Cultivation Status, Cropping System and Utilization Bambara Groundnut in Indonesia (Case in West Java).

Dr. Prakit Somta dari Kasetsart University Thailand, menyampaikan materi Current Status of Bambara Groundnut in Thailand mengutarakan bahwa kacang tersebut tumbuh secara terbatas di bagian selatan Thailand dengan area penanaman sekitar seribu hektar dan menghasilkan sebanyak 2,8 hingga 6,2 ton per hektar. Konsumsi bambara groundnut di Thailand secara langsung maupun tidak langsung dengan ekspor ke Malaysia seharga 0,9 sampai 1.1 dolar per kilogram dimana pasokan yang ada tidak dapat memenuhi permintaan. Hingga saat ini bambara groundnut tetap menjadi tanaman minor yang sekaligus penting bagi Thailand selatan.

Berikutnya Profesor Satriyas Ilyas dari IPB dengan Current and Future Status of Bambara Groundnut yang dilanjutkan oleh Mohd. Khairul Izwan dan Muhammad Zahrulakmal dari CFFRC – Nottingham University, Malaysia dengan Current and Future Status of Bambara Groundnut in Malaysia sebagai penutup presentasi. [waw]