Perempuan ternyata berperan besar dalam ketahanan pangan. Demikian dikatakan Staff Ahli Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia Dr. Ir. Apik Karyana, M.Sc. Dalam Seminar Nasional “Ketahanan Pangan Masyarakat Hutan Berperspektif Gender pada Masa Adaptasi Kebiasaan Baru”, yang diadakan melalui zoom meeting, Kamis (6/8/2020).

Dikatakan Apik bahwa kerusakan lingkungan yang menjadi faktor utama terhadap stabilitas ketahanan pangan bisa dirubah oleh perempuan.

“Permasalahan lingkungan selalu berhulu di perilaku. Dan perempuan lah yang menjadi media utama dan pertama yang dapat mendorong perubahan perilaku,” katanya.

Dia menambahkan bahwa dalam kesehariannya, peran perempuan cenderung lebih dekat dengan lingkungan, seperti ketersedian air bersih, pengelolaan sampah rumah tangga, merawat tanaman, holtikultura, dan agroforestri.

Senada dengan Apik, Guru Besar Sosiologi Pertanian FP UB Prof. Ir. Yayuk Yuliati menambahkan bahwa dengan kelembutan hatinya dalam memelihara lingkungan perempuan mampu memanfaatkan sumberdaya alam dengan kehati-hatian dan kecukupan sesuai dengan kebutuhan. Sehingga jika terjadi kerusakan lingkungan maka perempuan yang paling terdampak apabila terjadi kerusakan lingkungan, Seperti mereka harus cari air lebih jauh, cari kayu bakar jauh karena rusaknya hutan

“Jadi pesan moralnya jangan rusak atau eksploitasi hutan karena menyusahkan perempuan,”katanya.

Yayuk juga mengatakan, lebih dari itu, pemberdayaan masyarakat yang memperhatikan aspek gender baik laki-laki ataupun perempuan hasilnya akan lebih signifikan dalam pencapaian kesejahteraan termasuk ketahanan pangan keluarganya.

Selanjutnya Manajer R&D UB Forest Dr. Asihing Kustanti, S.Hut.,M,Si mengatakan bahwa seharusnya tidak hanya perempuan yang berpengaruh dan mempunyai andil pada lingkungan tapi juga masyarakat pengguna hutan baik secara langsung maupun tidak langsung. Seperti contohnya hutan. Hutan sebagai penyokong kehidupan masyarakat memberikan banyak manfaat.

“Masyarakat mempunyai kepentingan terhadap hutan, seperti sebagai sumber pangan, papan, dan sandang. Bahkan secara tidak langsung hutan memberikan keindahan, cadangan oksigen, sumber mata air, pencegah banjir bahkan ekowisata,”kata dosen Pertanian tersebut.

Oleh karena itu, seharusnya lah masyarakat dengan kapasitas pengetahuan dan inovasi yang dimiliki bisa turut menjaga kelestarian hutan dan bukan malah merusaknya. [OD/Humas UB].