Desa Bokor yang berlokasi di Kecamatan Tumpang Kabupaten Malang memiliki potensi sebagai desa wisata, dengan menanam dan memanfaatkan bunga matahari sebagai salah satu daya tarik unggulan beserta keindahan alam, perpaduan budaya, budidaya sayuran dan lahan persawahan. Ketua tim pengabdian Dr. Ir. Titin Sumarni, MP., beserta anggota tim pengabdian masyarakat Laboratorium Sumber Daya Lingkungan Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya (Lab. SDL FP UB) pada hari rabu (22/07/2020), melaksanakan kegiatan pengabdian masyarakat dengan penerapan teknologi budidaya bunga matahari dalam upaya menuju ke desa wisata.

Kepala Desa Bokor Kecamatan Tumpang Arianto dan
Ketua Laboratorium SDL BP FP UB Dr. Ir. Sitawati, MS 

Tanaman bunga matahari adalah tanaman perdu semusim famili compositae. Biji bunga matahari pada awalnya dikenal sebagai bahan utama dalam pembuatan makanan ringan yang dikenal dengan ‘kuaci”. Biji tersebut kaya akan protein dan lemak. Mengingat kebutuhan dan pasar produk bunga matahari di dalam negeri maupun ke luar negeri yang memiliki prospek yang cukup tinggi. Hal ini membuka peluang bagi petani di Desa Bokor untuk turut serta membudidayakan tanaman tersebut. Objek kegiatan pengabdian yaitu kelompok tani yang berada di Desa Bokor,yaitu Kelompok Tani Subur.

Kegiatan pengabdian masyarakat yang dilaksanakan dalam kondisi pandemi memerlukan penerapan prosedural kesehatan dan pembatasan peserta pengabdian. Kegiatan ini dilaksanakan dalam bentuk pelatihan Trainer of Trainer(TOT) dan dihadiri sebanyak 16 orang petani.

Dalam sambutannya, Kepala Desa Bokor Kecamatan Tumpang Arianto menyampaikan bahwa Desa Bokor diarahkan untuk menjadi Pungijo (Kampung ijo), kampung yang produktif dengan swadaya dan pengabdian masyarakat. Dimana masyarakat Desa Bokor diharapkan akan mempunyai penghasilan tambahan, yang akan meningkatkan kesejahteraan penduduknya. Pembangunan desa ditujukan untuk mengembangkan bidang wisata. Untuk tahun pertama, pembangunan infrastruktur akan diarahkan ke pemukiman. Dan tahun berikutnya pembangunan diarahkan pada daerah pertanian, yang ditunjang oleh kegiatan pemuda desa dalam bentuk usaha kolam pemancingan. Ke depannya ada perencanaan untuk budidaya tanaman hias, agar lahan pertanian desa tidak hanya bernilai produktif, tetapi juga mempunyai nilai estetika/keindahan.

Ketua Laboratorium SDL BP FP UB,  Dr. Ir. Sitawati, MS. menjelaskan bahwa bunga matahari sangat beragam dalam jenisnya. Selain sebagai tanaman hias, bunga matahari juga dapat berfungsi sebagai tanaman refugia, tanaman tersebut bisa ditanam bersama dengan tanaman sayuran untuk mengurangi intensitas serangan hama dan penyakit ketanaman utama. Tanaman bunga matahari selain berfungsi estetika, indah untuk dipandang. Juga mempunyai fungsi ekonomis yaitu biji bunga yang dapat dipanen.

Narasumber kegiatan pengabdian, Dr. Ir. Noer Rahmi Ardiarini, SP., M. Si. menyampaikanperlu direncanakan mengenai pola tanam bunga matahari. Apakah bunga matahari akan ditumpangsarikan, lalu ditumpangsarikan dengan komoditas tanaman apa, bisa dengan tanaman jagung, tanaman sayuran atau komoditas tanaman lainnya. Tanaman bunga matahari juga sangat toleran terhadap pemupukan dan menyesuaikan dengan kondisi lahan tempat tanaman tersebut tumbuh. Kunci pembudidayaan tanaman bunga matahari adalah memberikan pengairan secukupnya, tidak berlebihan tetapi jangan sampai tanaman tersebut juga kekurangan air.(zma)