kurniatun hairiahGuru Besar Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya (FP-UB), Prof. Dr. Ir. Kurniatun Hairiah menjadi peneliti terbaik kedua di Indonesia setelah peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Suharyo Sumowidagdo.

Kurniatun berhasil mengalahkan 500 peneliti dari berbagai bidang, seperti Biologi, Geologi, hingga Fisika Partikel.

Dihubungi PRASEYTA Online, Kurniatun mengaku awalnya tidak tahu menahu perihal penobatan dirinya sebagai peneliti terbaik.

“Waktu itu saya mendapat ucapan selamat dari salah seorang teman. Saya merasa tidak pernah mempublish atau mendaftarkan diri dalam kompetisi waktu itu,” katanya.

Setelah ditelisik lebih jauh, ternyata penobatan dirinya menjadi peneliti terbaik karena ketelatenannya mempublikasikan artikel ilmiah di jurnal internasional dan nasional.

Dengan dibantu oleh Lembaga peneliti International Center for Agroforestry (ICRAF) artikel-artikel ilmiah terdahulu hingga terbaru milik Kurniatun mulai di publikasikan di masyarakat. Lebih jauh lagi, masyarakat bisa mengunduhnya tanpa diharuskan membayar.

“ICRAF membantu men-scanning dan mempublikasikan artikel ilmiah saya sehingga banyak masyarakat yang mensitir untuk dijadikan referensi penelitian,” katanya.

Tidak hanya itu, artikel-artikel ilmiah Kurniatun tentang sistem perakaran ternyata banyak dibutuhkan masyarakat. Peneliti yang lebih senang dipanggil Bu Cho tersebut berpendapat bahwa untuk hidup, tanaman butuh air dan unsur hara. Namun sayangnya, banyak peneliti yang mengabaikan sistem perakaran. Padahal, jika diperhatikan penelitian tentang sistem perakaran banyak yang sederhana namun tidak banyak yang melakukannya.

“Akhirnya saya mulai meneliti tentang sistem perakaran pada tahun 1995 dan penelitian yang berhubungan dengan cadangan karbon sudah dilakukan sejak tahun 1994. Penelitian jangka panjang yang saya lakukan dibantu oleh ICRAF. Kenapa saya bisa meng-upload artikel ilmiah dalam jumlah banyak, ini semua berkat bantuan dari teman-teman di ICRAF,” katanya.

Pada sesi terakhir wawancara, Kurniatun mengatakan bahwa penelitian yang relevan dan tidak banyak yang meneliti merupakan kunci bagaimana artikel-artikel ilmiah tersebut banyak disitir oleh masyarakat. [Oky/Humas UB]

sumber: PrasetyaOnline