Sebagaimana diketahui secara geografis, Kecamatan Turen adalah bagian hilir dari Daerah Aliran Sungai (DAS) Mikro Bangsri , dimana wilayah DAS Mikro Bangsri  tergolong kritis hingga mencapai 1.020,94 hektar, lahan kritis tersebut tersebar pada wilayah administrasi Kecamatan Turen, Wajak, dan Poncokusumo. Salah satu solusi masalah lahan kritis adalah implementasi sistem pertanian berkelanjutan yang dapat diupayakan melalui aplikasi amelioran.

Amelioran merupakan bahan aktif untuk meningkatkan kesuburan tanah melalui perbaikan kondisi fisik dan kimia, Pemilihan amelioran yang efektif harus menyesuaikan klasifikasi lahan dan hasil evaluasi kesesuaian lahan untuk tanaman yang akan dibudidayakan. Formula untuk memproduksi amelioran ini berbahan baku lokal, baik berupa  Mikro Organisme Lokal (MOL), Pupuk Organik Padat (POP), Pupuk Organik Cair (POC) dan PGPR (Plant Growth Promoting Rhizobacteria) .

Sebagian besar para petani sudah bisa memproduksi amelioran tapi sangat disayangkan belum tersentuhnya produsksi baik secara standarisasi baik secara uji laboratorium ataupun manajemen usaha sehingga para produsen tidak bisa meningkatkan secara komersil. Melalui Program Kemitraan Masyarakat (PKM) yang telah lolos seleksi dan didanai Kemenristekdikti dengan nomor kontrak : 359.10./UN.C10/PM/2019 , Dr.Ir.Rini Dwi Astusi, MS. dan Dr.Ir.Titin Sumarni, MP., bekerjasama dengan Dwi Sumular, SP. dari BPP melakukan pengabdian masyarakat terhadap petani produsen amelioran di Kecamatan Turen.

Menurut Dr Rini Dwi Astuti sebagai ketua tim  bahwa tujuan utama dari pendampingan ini berupaya agar para petani produsen amelioran ini bisa meningkatkan pengetahuan baik mengenai proses produksi ataupun pemasaran produk amelioran, yang jangka panjangnya akan meningkatkan taraf hidup petani terlebih untuk meningkatkan tujuan pertanian berkelanjutan yang sehat tidak merusak lingkungan.

“ kita banyak menemukan bahwa produksi amelioran para petani sebenarnya sangat bagus, tapi karena keterbatasan dana dan pengetahuan mereka hanya terbatas dilingkungan sekitar saja, kami berusaha intens untuk mendampingi mereka, terutama untuk standarisasi produksi melalui uji laboratorium Hama Penyakit dan Laboratorium Kimia Tanah FPUB atau uji perlakuan tanaman terhadap produk amelioran tersebut “ ujar rini.

Kegiatan pengabdian masyarakat dengan skim PKM ini dilakukan rutin dan intens serta ruang lingkup kegiatan ini mencakup pendampingan teknik produksi dan manajemen usaha. Produk para petani mulai distandarisasi proses produksinya dengan diujikan ke Laboratorium Fakultas Pertanian UB dan hasil uji ini selanjutnya akan digunakan sebagai dasar untuk mendesain kemasan produk. Adapun pendampingan manajemen yang dilaksanakan tim pengabdian masyarakat dari FP UB mencakup pengurusan Ijin Usaha Mikro Kecil (IUMK) termasuk NPWP, desain kemasan, standarisasi proses produksi, pendaftaran hak cipta serta strategi pricing produk . [zma]