Program studi Agroekoteknologi Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya (FP UB) masih menjadi favorit peserta SNMPTN dan SBMPTN. Hal ini terbukti selama empat tahun berturut-turut prodi Agroekoteknologi menempati posisi pertama yang paling diminati untuk bidang saintek.

Kaprodi Agroekoteknologi Dr.agr. Nunun Barunawati, SP.MP mengatakan bahwa meningkatnya animo masyarakat terhadap Prodi Agroekoteknologi dipengaruhi oleh terjadinya pergeseran mindset ilmu pertanian dulu dan sekarang.


Keterangan dari kiri ke kanan: Dr.agr. Nunun Barunawati, SP.MP, Dr. Ir. Sudarto, MS, dan Dwi Swandhana , A.Md

“Terjadi pergeseran pola pikir ilmu pertanian dulu dan sekarang. Jika dulu ilmu pertanian lebih berkesan dengan berlumpur atau blethok. Kurikulum ilmu pertanian sejak 2008 sudah diperbaiki menjadi lebih inovatif, menggunakan IPTEK, global dan lebih update menyesuaikan dengan tantangan milenial baik secara lokal, regional, maupun internasional,”katanya. Hal ini bekal untuk menjawab tantangan permasalahan sektor pertanian menghadapi Era Global dan Era industri 4.0 dimana PS Agroekoteknologi harus lebih menyiapkan lulusan yang handal dan berdaya saing.

Faktor yang kedua, dikatakan oleh Nunun Barunawati bahwa terkait erat dengan Tingkat kepuasaan stakeholder. Stakeholder disini tidak hanya perusahaan yang menjadi mitra FP-UB namun juga para orang tua mahasiswa.

“Pastilah ketika orang tua memasukkan anaknya ke suatu Perguruan Tinggi akan melihat prospek lapangan pekerjaan dari prodi yang mereka pilih. PS Agroekoteknologi ini paradigma telah menjalankan standar mutu Gugus Jaminan Mutu (GJM). Ketua GJM Dr. Ir. Sudarto, MS  dan tim mengawal implementasi kurikulum yang berkembang agar tetap menjaga mutu lulusan termasuk pelaksanaan pembelajaran, metode dan sistem pembelajaran, serta memonitor indek Kepuasan stakeholder yang bekerjasama dengan kita. Kita menjalin kerjasama dengan stakeholder agar mahasiswa punya gambaran bidang pekerjaannya melalui kegiatan magang kerja. Stakeholder yang bekerjasama dengan FP UB meliputi Perusahaan, Balai Penelitian, Instansi pemerintah maupun swasta baik di Dalam Negeri maupun di Luar Negeri.  Dengan demikian calon lulusan siap menghadapi tantangan, menyelesaikan permasalahan terkini di sektor pertanian.

 “Perusahaan tempat mahasiswa kita magang banyak mendapat kepuasan. Mereka berpendapat bahwa mahasiswa Agroekoteknologi UB lebih Tangguh dan Tahan Banting di lapangan. Selain itu tidak jarang dari Stakeholder yang meminta mahasiswa kita untuk direkrut langsung di perusahaan tersebut sebelum wisuda,”kata Sudarto.

Faktor ketiga dipengaruhi oleh implementasi pelayanan pembelajaran yang tersistematisasi dalam sebuah jaringan bernama Sistem Informasi Akademik Terpadu.

Staf Akademik FP UB Dwi Swandhana Rahmadi Putra, A.Md. mengatakan bahwa Sistem Informasi Akademik Terpadu melayani mahasiswa mulai masuk sampai dengan lulus.

“Dengan sistem tersebut akan memudahkan mahasiswa untuk melakukan semua kegiatan akademis seperti daftar ulang dan melihat jadwal perkuliahan. Sedangkan bagi dosen dan pegawai mudah memonitor jumlah mahasiswa yang mendekati akhir studi dan yang masih aktif kuliah maupun mahasiswa yang tengah memproses pelayanan akademik lainnya.

Dwi menambahkan data terbaru menunjukkan  bahwa lama tunggu mahasiswa mendapatkan pekerjaan sebelum lulus sebanyak 39 persen. Sedangkan 20 persen lulusan Prodi Agroekoteknologi yang bekerja sebagai PNS (dosen, peneliti di Instansi pemerintah) 20 persen di perusahaan swasta dan 40 persen sebagai pengusaha di sektor pertanian. Adapun 10 persen sisanya melanjutkan studi jenjang S2 dan belum bekerja. [Oky Dian/Humas UB]