Produksi kopi di UB Forest cukup tinggi yaitu mencapai 600 kg ha-1 , konsekuensi atas hal  ini adalah jumlah limbah panen kopi yang berupa kulit kopi sebesar 50 – 60 % dari hasil panen, ini berarti potensi limbah organik sisa panen yang berupakulit kopi tersebut mencapai ± 94.5 ton. Limbah kulit kopi tersebut berpotensi untuk dimanfaatkan sebagai pupuk organik yang dapat meningkatkan kesuburan tanah. Namun sayangnya, limbah sisa panen tersebut belum dikelola dengan baik oleh petani dan hanya dibiarkan saja di lahan. Karena petani pesanggem lebih suka memberikan pupuk kandang kotoran ayam yang dibeli dari luar wilayah UB Forest sehingga biaya produksi petani semakin besar. Kondisi ini berimbas pada berkurangnya keuntungan atau pendapatan yang diperoleh petani pesanggem.

Pemberian materi oleh
Ketua Departemen tanah

Melihat potensi dan permasalahan yang muncul tersebut, maka Tim Dosen Departemen Tanah FP UB yang diketuai Dr. Kurniawan Sigit Wicaksono, melakukan kegiatan pengabdian masyarakat untuk petani pesanggem Dusun Sumbersari yang berlokasi di kawasan UB Forest. Melalui group discussion untuk mengenalkan teknologi pembuatan kompos dan pendampingan serta mendiseminasikan hasilnya yang akan diterapkan pada masyarakat untuk mengatasi permasalahan yang terjadi. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petani pesanggem dalam pengolahan dan pengembangan zero waste management melalui pembuatan kompos dari limbah organik kulit kopi dan tanaman budidaya lainnya.

Syahrul Kurniawan SP., MP., Ph.D selaku Ketua Departemen Tanah dan Fasilitator dalam group discussion tersebut, menyampaikan materi kepada petani pesanggem akan pentingnya kompos dan pentingnya  memiliki jiwa entrepreneur di dalam mengembangkan usaha berbasis pengolahan limbah organic dari lingkungan sekitar. Selain itu juga petani pesanggem diajak berfikir dan berdiskusi mengenai keuntungan dan kerugian dalam hal produksi ketika petani menggunakan pupuk organic atau pupuk anorganik dalam budidaya pertaniannya. Harapanya petani dapat mengoptimalkan limbah kulit kopi menjadi kompos sehingga dapat mengurangi penggunaan pupuk kandang kotoran ayam untuk menekan biaya produksi.

Tim Pengabdian Masyarakat Dosen Jurusan Tanah berupaya agar petani pesanggem memiliki pengetahuan dalam menerapkan teknologi dan inovasi untuk mengelola dan memanfaatkan limbah organic sehingga dapat bernilai ekonomi dan dapat menekan biaya produksi yang dikeluarkan seperti pembelian pupuk kimia ataupun pupuk kandang ayam dari luar UB Forest selama ini. Selain dapat menekan biaya produksi yang dikeluarkan, hasil pupuk kompos dari limbah kulit kopi juga dapat dijadikan sebagai media pembibitan tanaman kopi. Dengan biaya produksi yang dikeluarkan semakin sedikit dan hasil produksi tanaman yang didapatkan meningkat, maka kesejahteraan petani akan menjadi lebih baik karena keuntungan yang diperoleh menjadi meningkat. (rmi/zma)