Kurniatun Hairiah, 61 tahun, selalu haru jika bercerita tentang awal kiprahnya di dunia penelitian. Dia teringat kedua orang tua yang terus mendorongnya supaya selalu unggul. “Ayah juga yang memotivasi saya meneliti di Nigeria,” kata guru besar Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya, Malang, itu, Kamis lalu.

Saat itu, dia masih seorang dosen muda. Ayahnya memberi dukungan untuk mengambil kesempatan meneliti di luar negeri, sekalipun itu ke Nigeria. Sebaliknya, sang ibu terus menangis dan menahannya ke luar negeri. Alasannya, lokasi penelitian jauh dan Cho–begitu Kurniatun biasa disapa–pergi seorang diri.

Meski begitu, Cho mengungkapkan, ibu sebenarnya adalah orang yang sangat mendukung dirinya melanjutkan sekolah ke jenjang tertinggi. “Ibu kerap berkata, ‘Perempuan harus sejajar dan bersekolah setinggi mungkin’,” ujar dia.

Kepergian Cho ke Nigeria terbukti tak sia-sia. Berkat penelitian yang disponsori oleh Universitas Brawijaya dan International Institute of Tropical Agriculture tersebut, pintu suksesnya terbuka. Penelitiannya tentang akar yang muncul di jurnal ilmiah internasional membuat ilmuwan dunia terkesima. Penelitian Cho dianggap unik dibanding penelitian dosen lainnya. Berkat publikasi itulah, dia mendapat tawaran melanjutkan pendidikan S-3 di Belanda. “Belanda memungkinkan langsung S-3, asalkan memiliki pengalaman dan penelitian di bidangnya,” kata dia.

Kariernya sebagai ilmuwan cepat menanjak berkat konsistensinya mengunggah setiap hasil penelitian ke jurnal-jurnal ilmiah. Penelitian Cho lantas dilirik oleh editor jurnal internasional yang memiliki reputasi kelas dunia. Penelitian yang dilakukan Cho dinilai merupakan hal baru dan dianggap menarik. “Perakaran tak banyak yang meneliti, padahal penting dan dibutuhkan,” dia menyebutkan.

Nama Cho kian dikenal dunia setelah penelitian yang lain berhasil melahirkan sistem penghitungan emisi karbon. Awalnya, Cho meneliti dampak kebakaran hutan di Kabupaten Lampung Utara, Lampung, dan Jambi. Dalam penelitian itu, dia juga mempelajari hilangnya karbon setelah alih fungsi lahan dan stok karbon di kebun skala rumah tangga.

Saat peneliti dan pemerintah riuh memperbincangkan emisi karbon dan cara menghitungnya, nama Cho pun sudah menulis sistem penghitungannya sebagai bahan ajar bagi mahasiswa. Sistem itu diangkat oleh International Center for Agroforestry. Hasil penelitiannya diterbitkan sebagai buku dan dibawa dalam pertemuan lingkungan, Conference of Parties COP, di Bali pada 2007.

Berkat ketekunannya mendokumentasikan setiap hasil penelitian dalam jurnal ilmiah internasional, Cho berkibar. Tak sulit bagi para ahli menemukan namanya dalam index Webometrics, sistem yang memberikan penilaian dan pemeringkatan terhadap semua universitas terbaik di dunia. Selain itu, Webometrics rutin merilis jajaran top ilmuwan yang sudah diperingkat setiap tahun.

Nama Cho disebut sebagai peneliti terbaik di Indonesia versi Webometrics pada 2015. Dia menduduki peringkat kedua setelah peneliti Suharyo Sumowidagdo. Lalu, pada awal 2017, nama Cho kembali masuk jajaran 10 besar peneliti top Indonesia dan menjadi satu-satunya perempuan dalam deretan tersebut.

Besarnya pengaruh orang tua dalam menentukan jalan hidup sebagai peneliti juga dirasakan oleh Pratiwi Sudarmono. Pratiwi kecil kerap dicekoki dengan segala hal berbau kimia oleh ayahnya, yang seorang ahli kimia teknik di Institut Teknologi Bandung. Suatu ketika ayahnya memperagakan sebuah reaksi kimia. Ia terpukau. “Hal tersebut membuat saya akrab dengan kehidupan peneliti,” kata guru besar berusia 64 tahun ini.

Kiprahnya dalam dunia penelitian dimulai dari fakultas kedokteran. Pratiwi terenyak ketika ayahnya meninggal saat dia masih menjalani semester 6 perkuliahan. Peristiwa itu membuatnya merasa menjadi dokter saja tidak cukup. Pratiwi bertekad menjadi dokter yang bisa menemukan “ramuan ajaib” penghenti penyakit. Itulah alasannya hijrah mendalami mikrobiologi, alih-alih berpraktek sebagai dokter. Dengan mendalami ilmu biologi, ia berpeluang menemukan aneka jenis obat.

Demi mempelajari ilmu biologi molekul, dia berangkat ke Jepang. Saat itu, di Indonesia masih jarang orang yang mempelajari ilmu biologi molekul secara dalam. Disiplin ilmu tersebut, kata Pratiwi, adalah ilmu yang mempelajari sel terkecil dalam tubuh manusia. Dari ilmu inilah rekayasa protein bisa diwujudkan.

Pratiwi lantas dikenal sebagai ahli mikrobiologi andalan Indonesia. Sudah sekitar 60 publikasi internasional ditelurkannya dan lebih dari 100 publikasi nasional diterbitkan. Dia juga dianugerahi bermacam-macam tanda penghargaan, salah satunya adalah Satyalencana Karya Satya Presiden Republik Indonesia pada 2008.

Keaktifannya dalam dunia penelitian membuat dia pernah menduduki banyak posisi strategis sebagai perumus kebijakan. Antara lain, Pratiwi pernah mengisi keanggotaan Dewan Pakar Dewan Pertahanan Keamanan Nasional dan pernah menjadi anggota tim sembilan penyusun Garis Besar Haluan Negara.

Dia dikenal dunia lewat penelitiannya mengenai Salmonella typhi bersama Badan Kesehatan Dunia (WHO). Namun Pratiwi lebih dikenal sebagai calon astronaut perempuan pertama di Asia.

Dia menceritakan, waktu itu, Indonesia berencana memberangkatkan astronaut dalam misi peluncuran tiga satelit komersial: Skynet 4A, Palapa B3, dan Westar 6S. Misi itu dikenal dengan nama misi STS-61-H, yang menggunakan pesawat ulang-alik Columbia STS-61-H.

Dalam misi tersebut, Pratiwi bertugas sebagai kru yang akan mengoperasikan satelit Palapa B3. Sebelumnya, dia membuat proposal penelitian yang masih terkait dengan aspek molekuler biologi, yaitu mengenai daya tahan orang dengan lingkungan, dengan jasad renik, dan bagaimana mempertahankan badan di lingkungan luar angkasa. “Asumsinya adalah kondisi luar angkasa sangat tidak nyaman,” kata dia.

Saat itu, dia mengenang, Indonesia mengajukan banyak hal yang menjadi fokus penelitian. Setidaknya ada lima peneliti yang diajukan Indonesia dalam misi tersebut. Hingga akhirnya Pratiwi yang terpilih bersama enam kru lainnya. Ada Mike Coats (komandan), John Blaha (pilot), Robert Springer, James Buchli, Anna Fisher (spesialis misi), dan Pratiwi Sudarmono serta Nigel Wood (spesialis dari internasional).

Pratiwi mestinya berangkat pada 24 Juni 1986 dan kembali mendarat di bumi pada 1 Juli 1986. Namun keberangkatannya dibatalkan karena pesawat Challenger, yang sedianya akan digunakan untuk membawa Pratiwi, meledak 73 detik setelah diluncurkan. Meski begitu, satelit Palapa tetap diluncurkan beberapa tahun setelah kecelakaan tersebut, tanpa awak, karena menggunakan roket Delta.

Bicara soal penghargaan, dunia juga mencatat ada satu lagi peneliti dari Indonesia yang mampu membuat ilmuwan tercengang. Sri Fatmawati berada di antara peneliti wanita terbaik yang meraih penghargaan The 2016 Elsevier Foundation Awards for Early Career Women Scientists in the Developing World di Washington, DC, Amerika Serikat.

Pengembaraannya di dunia laboratorium bermula dari impian ingin menjadi dokter. Sejak kecil, Sri mengatakan kerap berangan-angan ingin menjadi orang yang berilmu tinggi. “Bapak saya sangat punya andil besar pada perjalanan karier saya. Dia terus-menerus mengatakan, walau perempuan, harus lebih pintar,” kata dia.

Perempuan 36 tahun ini menuruti nasihat ayahnya. “Meskipun kamu perempuan, kamu harus lebih tinggi pendidikannya dari bapak,” kata dia. Nasihat itu membuahkan hasil yang baik. Fatma, di usianya yang masih muda sebagai peneliti, telah menyabet banyak penghargaan internasional.

Dia pernah meneliti spons, spesies laut yang berpotensi menjadi obat malaria, infeksi, kanker, dan Alzheimer. Berkat penelitiannya ini, ia diganjar beasiswa prestisius International Fellowships L’Oreal-UNESCO for Women in Science 2013. Dengan beasiswa ini, Fatma mampu melanjutkan risetnya di Institute of Natural Products Chemistry, National Center for Scientific Research di Gif-sur-Yvette, Prancis. Dua tahun setelah itu, dia kembali memperoleh penghargaan, yaitu Early Chemist Award 2015 di Honolulu, Amerika Serikat.

Jalan untuk mereguk prestasi sebagai peneliti penuh pendakian, apalagi bagi perempuan. Fatma mengisahkan, ada berbagai situasi yang harus dikompromikan terkait dengan kondisinya sebagai perempuan yang sudah berkeluarga. Meski kesempatan dan akses yang diberikan sudah setara dengan laki-laki, masih tersisa beberapa kondisi yang membuat geraknya terbatas.

Dia menceritakan pengalamannya sewaktu hamil. “Mobilitas saya berkurang, itu menjadi pertimbangan,” kata dia. Dalam kondisi hamil, dia merasakan morning sick yang cukup hebat. Saat itu, dia tengah melanjutkan pendidikan di Jepang. “Profesor meminta saya pulang ke Indonesia, sementara beasiswa hanya dua tahun.” Kondisi ini menunjukkan ada kapasitas yang berbeda antara laki-laki dan perempuan dalam melakukan riset.

Setelah melahirkan pun, ada tantangan lain yang dihadapi para peneliti perempuan. Fatma kembali memberikan contoh lewat pengalamannya sendiri. Setelah anaknya lahir, dia menuturkan, butuh upaya besar untuk menjalankan penelitian sembari mengasuh anak. “Pagi, siang, sore mesti bolak-balik memeras ASI dari laboratorium,” kata dia.

Karena itu, menurut Fatma, ada beberapa lembaga donor yang mensyaratkan penerima dana hibah riset tidak hamil selama melaksanakan riset. Dia tak menampik, sebagai perempuan dan istri, prioritasnya tak lagi melulu pada riset. “Ketika anak sakit atau anak tidak mau makan, ASI tidak cukup, saya jadi sulit berkonsentrasi. Di rumah, saya mengerjakan proposal atau makalah ketika anak sudah tidur,” kata dia.

Kondisi seperti yang dihadapi Fatma masih menjadi momok bagi sebagian besar perempuan yang hendak serius menekuni karier sebagai peneliti. Karena itu, tak heran jumlah peneliti perempuan di Indonesia masih tak sebanding dengan laki-laki, yaitu hanya sekitar 31 persen.

Data dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menunjukkan, pada 2014, hanya ada 239.339 mahasiswi yang meraih gelar S-1 dan 18.560 mahasiswi yang meraih gelar S-2. Dari angka itu, hanya 516 mahasiswi yang menempuh program doktoral. Artinya, hanya 0,2 persen mahasiswi S-2 yang melanjutkan ke jenjang berikutnya.

Adapun berdasarkan survei opini yang dilakukan L’Oreal Foundation pada 2015 di Eropa, sebanyak 67 persen orang menilai perempuan tidak cukup andal menjadi peneliti ulung. Akibatnya, sains dipandang sebagai sesuatu yang tidak menarik bagi perempuan.

Sedangkan menurut Cho, bukan masalah diskriminasi yang membuat perempuan di Indonesia sulit menjadi peneliti, tapi dukungan dari keluarga. Dia berujar, perempuan memiliki peran ganda, selain harus mengejar karier, mereka mesti bertanggung jawab terhadap pertumbuhan dan pendidikan anak.

Padahal penelitian butuh konsentrasi tinggi. Kadang, kata dia, peneliti perempuan harus jeda beberapa saat pada masa melahirkan dan menyusui. “Setelah jeda, butuh waktu lebih lama untuk memulai penelitian,” tutur dia.

Lain lagi dengan Pratiwi yang merasa tak ada hambatan berarti bagi perempuan untuk membentangkan sayap sebagai peneliti. Satu-satunya hambatan, menurut dia, adalah kurangnya perhatian pemerintah. “Peneliti belum dianggap sebagai jiwa sebuah negara, berbeda dengan di luar negeri yang sampai presiden pun punya penasihat khusus untuk pengembangan penelitian,” kata dia.

Jika ingin melakukan regenerasi perempuan peneliti yang bersedia mengabdikan hidupnya untuk mengembangkan ilmu pengetahuan, Pratiwi berpendapat, pemerintah mesti menyediakan dukungan penuh. Dia mengatakan saat ini anggaran yang disediakan masih belum ideal.

Fatma memberikan tiga poin yang harus dipenuhi untuk menjalankan regenerasi perempuan peneliti. Ketiganya ialah fasilitas yang memadai, budaya yang mendukung, dan keluarga yang mendukung. “Fasilitas misalnya tempat penitipan anak yang betul-betul aman, sehingga ibu tidak cemas,” ia menyebutkan.

Di antara semua keterbatasan ini, Fatma mencatat kondisi di Indonesia masih lebih baik ketimbang negara lain. Alasannya, masyarakat Indonesia masih bisa menerima istri dengan pendidikan yang lebih tinggi ketimbang suami. Berbeda dengan para suami di Yaman, dia mencontohkan, yang tidak mau mempunyai istri dengan pendidikan lebih tinggi. Eko Widianto | Imam Hamdi | Nur Hadi | Dini Pramita | [waw]

 

sumber: Koran TEMPO