Prof. Dr. Ir. Agus Suryanto, MS  menambah jumlah Guru Besar di Fakultas Pertanian usai dikukuhkan dalam rapat senat terbuka di gedung Widyaloka UB Rabu (22/07/2020). Prof. Dr. Ir. Agus Suryanto, MS yang dikukuhkan sebagai Profesor dalam Bidang Ilmu Ekologi Tanaman ini merupakan profesor aktif ke-43 dari FP, dan profesor aktif ke-186 di UB, serta profesor ke-263 dari seluruh profesor yang telah dihasilkan oleh UB.

Prof. Dr. Ir. Agus Suryanto, MS

Prof. Dr. Ir. Agus Suryanto, MS menyampaikan pidato ilmiah pengukuhan profesor yang berjudul: “ Strategi Peningkatan Efisiensi Konversi Energi Matahari pada Sistem Produksi Pertanian Melalui Pengelolaan Pola Tanam ”.

Dalam pidato pengukuhannya, Ia menjelaskan apakah pola tanam dalam budidaya pertanian yang diterapkan selama ini sudah tepat, efisien, danproduktif, dalam mengkonversi energi matahari menjadi biomas, khususnya pada  tanaman pangan.

Indonesia sebagai negara agraris, kaya akan cahaya matahari. Produksi tanaman pertanian sudah semestinya tidak semata-mata mengandalkan input sarana produksi buatan seperti pupuk kimia, namun seharusnya lebih memanfaatkan cahaya matahari yang berlimpah.

Produktivitas tanaman pertanian sangat dipengaruhi oleh kemampuan tanaman dalam mengkonversi energi matahari menjadi energi kimia melalui proses fotosintesis. Hanya saja konversi energi matahari menjadi energi kimia, efisiensinya sangat rendah, yaitu hanya sekitar 2%. Nilai Efisiensi Konversi Energi (EKE) yang rendah ini disebabkan oleh berbagai hal, antara lain pemantulan dan penerusan energi matahari yang jatuh pada tajuk tanaman,penggunaan sebagian energi matahari untuk transpirasi dan pembongkaran kembali hasil fotosintesis dalam proses respirasi, dan disebabkan pula oleh sistem budidaya tanaman yang kurang tepat sehingga mengakibatkan energi matahari tidak bisa dimanfaatkan secara maksimal.

 Chandrasekaran et al., (2010) menyebutkan, sistem budidaya yang kurang tepat antara lain, penggunaan jarak tanam yang terlalu lebar atau terlalu sempit, saat tanam tanpa memperhatikan fase pertumbuhan yang peka terhadap intensitas radiasi matahari dan penggunaan varietas yang tidak respon dengan intensitas radiasi matahari.

Hasil penelitian Agus Suryanto menunjukkan, perbaikan lingkungan tanaman dengan penataan pola tanam, dalam hal ini mengatur waktutanam, pemilihan varietas berdaun tegak (errect) dan tata letak tanaman dalambaris ganda pada tanaman padi, pemberian mulsa dan penggunaan tata letak barisganda pada tanaman jagung, penambahan populasi dan penanaman secara tumpangsaripada tanaman kentang, mampu meningkatkan EKE antara 1-3% tergantung perlakuandan jenis tanaman. Peningkatan EKE ini diikuti pula dengan peningkatan produksi tanaman hingga 50%.

Pengaturan pola tanam yang memadukan sifat fisiologis tanaman dalam sistem produksi pertanian dan lingkungan tanaman khususnya intensitas radiasi matahari yang berlimpah, akan memperoleh nilai EKE matahari yang optimal, yang diikuti dengan peningkatan produksi tanaman budidaya. Pemanfaatan energi matahari untuk peningkatan produksi tanaman budidaya akan menjadikan produksi tanaman pertanian efisien, berlanjut (sustainable), amandan sehat, serta ramah terhadap lingkungan pertanian.(humas UB/zma)