Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya kembali menambah satu Guru Besar, Prof. Dr. Ir Sugeng Prijono SU. dalam bidang Hidrologi Pertanian dari Jurusan Tanah FP UB. Beliau menjadi Guru Besar ke-31 di FP UB.

Pengukuhan Guru Besar diadakan pada rapat terbuka senat di Gedung Widyaloka UB (10/5/2017) Ketua Senat UB, Prof Dr Ir Arifin MS yang mengukuhkan Prof. Dr. Ir Lily Montarcih Limantara,  M. Sc. dan Prof. Dr. Ir Sugeng Prijono SU.

Dalam pidato pengukuhan jabatan Guru Besar dalam bidang Ilmu Hidrologi Pertanian, Profesor Sugeng Prijono mengangkat tema “Neraca Air Sebagai Landasan Pengembangan dan Manajemen Pertanian Berkelanjutan di Lahan Tadah Hujan”.

Perubahan iklim yang terjadi pada beberapa tahun terakhir dapat mengancam pertumbuhan dan produksi tanaman baik secara langsung maupun tidak. Salah satu dampak dari perubahan iklum secara langsung adalah pengaruhnya terhadap peningkatan temperatur udara, curah hujan dan siklus hidrologi terupatam di lahan tadah hujan.

Guru Besar kelahiran 1958 menuliskan bahwa untuk mengetahui seberapa besar dampak dari perubahan iklim terhadap ketersediaan air tanah dan pertumbuhan tanaman dapat dilakukan analisis dengan menggunakan Neraca Air baik secara wilayah maupun petak produksi. Dampak perubahan iklim juga dapat disimulasikan dengan perangkat lunak komputer. Hasil analisis dan simulasi dapat digunakan sebagai landasan menajemen pengembangan produksi pertanian yang berkelanjutan di lahan tadah hujan atau sebagai mitigasi. Ketersediaan air dalam mitakat perakaran tanaman juga dapat diketahui, sehingga predikat cekaman air bagi tahanaman dapat diperhitungkan.

“Beberapa langkah strategis mitigasi perubahan iklim dapat dilakukan untuk menjaga kestabilan dan peningkatan produksi tanaman. Upaya tersebut antara lain dengan tekniik olah tanam dalam pada tanah bertekstur berat, olah tanah minimum atau bahkan tanpa olah tanah pada tanah bertekstur ringan, aplikasi mulsa, panen hujan dan integrasi sistem pertanian seperti agroforestri.” pungkas pria yang menjabat sebagai Sekretaris Jurusan Tanah dari 2013 hingga saat ini.

Air hujan dijatuhkan dari langit untuk menghidupkan bumi yang mati, bukan untuk menghancurkan sesuatu yang ada dipermukaan bumi. Oleh karena itu, menjadi kewajiban kita untuk mengelola sumberdaya air hujan dengan sebaik-baiknya, dengan cara menyimpan air hujan didalam bumi (dalam tanah) sebagai tabungan yang dapat kita manfaatkan selama periode tanpa hujan, tutup Sugeng.

Acara dilanjutkan dengan tasyakuran di lobby Jurusan Tanah FP UB, yang dihadiri oleh Dekanat serta dosen dan tenaga kependidikan beserta tamu undangan lainnya untuk memberikan ucapan selamat. [waw]