universitas andalas“Banyak tantangan dan peluang yang dihadapi Indonesia ke depan. Perkembangan politik dan globalisasi akan memasuki wilayah Indonesia. Diharapkan Lokakarya menghasilkan pemikiran serta keputusan yang benar untuk meningkatkan kualitas proses belajar mengajar peserta didik Fakultas Pertanian sehingga menghasilkan lulusan yang cerdas berdaya saing memenuhi kompetensi abad ke-21, berdaya saing menghadapi AFTA 2015 dan APEC 2020 serta persaingan ASEAN” ujar Rektor Universitas Andalas, Prof. Dr. Werry Darta Taifur, SE saat sambutan pembukaan Seminar dan Lokakarya Forum Komunikasi Perguruan Tinggi Pertanian se-Indonesia (FKPTPI) selama tiga hari (8-10/9) di Universitas Andalas, Padang dengan mengangkat tema “Membangkitkan Patriotisme Pertanian: Sebuah Harapan Kepada Pemerintahan Baru.”

Prof. Dr. Ir. Musliar Kasim, MS selaku Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI menyambaikan bila Indonesia belum mandiri di bidang pangan maka semua orang yang ada di sini bertanggung jawab terhadap keadaan tersebut. Kenyataan menunjukkan, penggunaan teknologi di negara maju menghasilkan keuntungan luar biasa seperti produk kopi dan kakao yang berbilai berlipat setelah di olah dari bahan baku yang kita jual murah.

“Jelas terlihat peran teknologi harus dikuasai, yang hanya mungkin di capai melalui pendidikan yang bermutu. Kita semua bertanggung jawab untuk menyempurnakan pendidikan kita, khususnya pendidikan pertanian. Kurikulum pertanian harus dilakukan revisi agar melahirkan sarjana yang terampil dan mempunyai sikap yang sempurna. Di samping itu perlu dilakukan pelengkapan sarana prasarana laboratorium juga teaching farm.” Lengkapnya.

Semenjak disahkannya Undang-undang Pangan tahun 2012, maka isu kemandirian dan kedaulatan pangan menjadi semakin mengemuka. Namun demikian, nampaknya keberhasilan Indonesia dalam berswasembada beras pada tahun 1985, hingga saat ini masih sangat sulit diraih kembali. Bahkan pada beberapa tahun belakangan terdapat kecenderungan berbagai komoditas pertanian semakin banyak yang masuk ke Indonesia dari berbagai negara. Akankah Indonesia yang dikenal sebagai negara agraris yang subur makmur ini akan menjadi kontraproduktif, justru menjadi negara tujuan ekspor oleh negara-negara yang sebelumnya mengimpor komoditas pertaniannya dari Indonesia.

Kedaulatan dan kemandirian pangan mustahil bisa dicapai tanpa adanya koordinasi lintas lembaga. Tanggungjawab dan beban ini harus mampu dipikul secara bersama-sama, oleh perguruan tinggi, kementerian, lembaga swadaya masyarakat, dan pengusaha. Pemerintah diharapkan bisa menjadi dirigen yang bijak untuk mengkoordinasikan dan menyokong berbagai kegiatan untuk mewujudkan kemandirian tersebut. Untuk itulah, maka dirasa penting melakukan tukar menukar informasi antar perguruan tinggi pertanian, sehingga transfer teknologi dapat berjalan lancar dan dapat diiplementasikan secara lebih merata.

Seminar dan Lokakarya Forum Komunikasi Perguruan Tinggi Pertanian seIndonesia tahun 2014 ini diharapkan dapat memberikan kontribusi lanjutan yang kongkrit terhadap pola penyelenggaraan pendidikan tinggi pertanian. Di samping itu diharapkan pula sumbangan pikiran baik dari hasil-hasil penelitian maupun saran-saran yang berkembang dalam seminar mampu melahirkan masukan untuk mempertegas aturan dan etika berproduksi, pemasaran hasil-hasil pertanian lokal maupun ekspor serta impor.

Dengan diikuti oleh 51 Fakultas atau Perguruan Tinggi Pertanian dengan sebanyak 452 orang peserta. Diantaranya mewakili dari Fakultas Pertanian UB adalah Ir. Didik Suprayogo, M.Sc. Ph.D, Prof. Dr. Ir. Djoko Koestiono, SU, Prof. Dr. Ir. Zaenal Kusuma, SU, Dr. Ir. Bambang Tri Rahardjo, SU, Dr. Ir. Nurus Aini, MS, Dr. Ir. Syafrial, MS, Dr. Ir. Rini Dwi Astuti, MS, Ir. Yulia Nuraini, MS, Mangku Purnomo, SP., M.Si., Ph.D, Dr.agr. Nunun Barunawati, SP., MP dan Fitria Dina Riana, SP., MP.

Hadir pula mewakili Menteri Pertanian, Kepala Pusat Penganekaragaman Konsumni dan Keamanan Pangan Kementerian Pertanian, Sri Sulihanti kemudian Staf Ahli Menteri PPN Bappenas Bidang Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup dan Perubahan Iklim, Hayati Trias Hastuti. Ada juga Direktur PT Monsantu Group, pakar pertanian IPB, Ernan Rustiadi dan Sekretaris Jenderal FKPTPI, Wan Abbas Zakaria. Total sebanyak limakeynote speaker mengantarkan tema diskusi yang menarik.

Pada akhir lokakarya didapat beberapa saran serta rekomendasi seperti perlunya sinergi semua pihak yang mutlak diciptakan untuk mencapai kecukupan, kemandirian serta kedaulatan pangan. Semua pihak memempunyai peran yang besar untuk menentukan keberhasilannya. Perlunya rekonstruksi ulang sistem dan kurikulum pendidikan pertanian adalah langkah pertama yang mesti didahulukan, hal ini ditujukan pada kompetensi lulusan yang menguasai seluk-beluk operasional produksi pertanian.

Kerusakan infrastruktur kawasan pertanian terutama irigasi, jalan serta reformasi agraria telah lama diperlukan. Kedaulatan tersebut hanya mungkin dicapai bila hambatan tidak menjadi faktor pembatas untuk berproduksi. Globalisasi, AFTA dan APEC juga perubahan iklim adalah tantangan yang perlu dijadikan peluang, terutama pada sektor pertanian yang memerlukan ilmu pengetahuan dan teknologi. Perlunya pula penyederhanaan lembaga dan aturan pusat beserta daerah akan meningkatkan efisiensi kerja hingga antar intansi lebih menitikberatkan pada top and down. [waw]