Universitas Brawijaya (UB) kukuhkan Ir. Didik Suprayogo, M.Sc., Ph.D sebagai profesor dalam bidang Ilmu Konservasi Tanah dan Air. Ia merupakan profesor aktif ke-29 dari Fakultas Pertanian (FP), dan ke-165 di UB, serta menjadi profesor ke-291 dari seluruh profesor yang telah dihasilkan UB. Pengukuhan ini digelar Sabtu,(19/03/2022), di Gedung Samantha Krida secara daring dan luring terbatas dengan protokol kesehatan ketat.

Dalam pidatonya, Prof. Didik menjelaskan saat ini Indonesia mengalami krisis degradasi lahan karena sebagian lahan pertanian di Indonesia sudah mengalami degradasi lahan. Sejalan dengan itu, kondisi degradasi secara global turut memprihatinkan, sekitar 23 hektar per menit mengalami degradasi. Diprediksi pada tahun 2050 peningkatan lahan yang mengalami dergradasi akan mengurangi hasil pertanian secara global sekitar 50-70 juta.


“Tentunya hal tersebut berdampak terhadap sektor ekonomi, karena mengurangi pendapatan masyarakat,” jelasnya.

Lebih lanjut, degradasi lahan yang terjadi di skala petak disebabkan adanya erosi tanah akibat curah hujan, sekitar 70% terjadi pada lahan pertanian pada saat musim mengolah tanah.

Untuk menjawab persoalan tersebut, diperlukan sebuah inovasi pengembangan teknologi untuk mengurangi tingkat erosi. Apabila persoalan tersebut tidak segera diatasi maka akan menyebabkan menurunya tingkat kesuburan tanah, karena erosi membawa bahan organik dan membawa unsur hara sebagai makanan tanaman.

Dalam menjawab tantangan tersebut Prof. Didik menggagas inovasi BioGT-BOT+ untuk pertanian konservasi dalam budidaya tanaman semusim di lahan kering.

“Pada tahun 1990 kami sudah melakukan pengkajian untuk mengatasi persoalan degredasi lahan. Dalam perkembangannya kami melakukan penelitian di Lampung untuk menjaga kesuburan tanah. Dari penelitian tersebut kami mencoba memecahkan permasalahan”, katanya

Dengan adanya inovasi yang Ia gagas, dapat meningkatkan produksi pertanian karena dapat meredam temperatur tanah, mengendalikan erosi tanah, memulihkan Ph tanah, dan menjaga kelembapan tanah. Dengan demikian, inovasi tersebut sangat yang diperlukan di era disrupsi saat ini.

“Inovasi ini sudah kami uji ke petani pada tahun 2015 dengan mekanisme polibag. Dari pengujian pertama kami melakukan uji praktik tanaman kentang, hasil panen kentang dengan sistem ini manghasilkan produksi sekitar 30ton sekali panen. Hal tersebut jauh berbeda apabila tidak menggunakan inovasi yang telah kami gagas.  Selain itu, pengujian ini juga berhasil diterapkan pada tanaman jagung di lahan kering”, pungkas Prof. Didik.

Prof. Didik menyelesaikan studi S1 di Fakultas Pertanian UB, S2 di Wageningen Agriculture University, The Netherlands, dan S3 di Imperial Colllege, London University, UK. Selain menjadi dosen, saat ini ia menjabat sebagai Sekretaris Lembaga Pengembangan Pendidikan (LPP) UB. (irene/zma)