img-20161208-wa0010Kekeringan menjadi masalah utama di India utara, dimana ketersediaan air bersih dan air minum sangat terbatas, masyarakat miskin semakin terhimpit dan menjerit. Kekeringan terjadi dalam skala yang luas di wilayah Utta Pradesh pada tahun 2004 – 2007 dan terjadi lagi pada tahun 2014 hingga saat ini. Rata-rata curah hujan sekitar 750 mm/tahun, sehingga daerah tersebut merupakan salah satu hot-spot kekeringan. Degradasi tanah, tutupan lahan yang terbuka dan kemiskinan. Sekitar 80% sumur umum yang tersebar di wilayah tersebut mengalami kekeringan di akhir musim penghujan, masyarakat menderita kekurangan air minum, sehingga banyak migrasi ke kota lain untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Ternak juga menderita kekurangan air dan pakan. Pada kondisi tersebut, intervensi managemen air di seluruh landsakap sangat dibutuhkan.

Salah satu tawarannya adalah dengan menanam pohon lebih banyak di lahan pertanian, secara teknis dikenal dengan sistem Agroforestry, adalah dasar strategi untuk meningkatkan resiliensi terhadap kekeringan. Indian Counsel Agricultural Research (ICAR) bekerja sama dengan Central Agroforestry Research Institute (CAFRI), Jhansi, dan ICRISAT Hyderabat- India telah melakukan beberapa seri penelitian di wilayah kering Bundelkhand untuk mendapatkan solusi yang lebih komprehensif (ekonomi, biofisik dan sosial). Penelitian dilaksanakan di area seluas 7,17 juta ha yang tersebar mulai dari sentral India, yang mencakup 7 distrik salah satunya adalah Jhansi.

Masyarakat Agroforestry India berusaha membangun kesadaran masyarakat akan manfaat jasa lingkungan dan nilai penting yang dapat diperoleh dari Agroforestry systems, hingga akhirnya mengadakan dua kegiatan yang berurutan National Symposium on “Agroforestry for environmental challenges, sustainable land use, biodiversity conservation and rural livelihood options”,  yang dilaksanakan pada 3-5 Desember 2016 dan Training “Ecosystem Services in Agroforestry: Concept, Theory and Practice” pada 6-9 Desember 2016. Pada dua kesempatan tersebut Profesor Kurniatun Hairiah dari Jurusan Tanah Fakultas Pertanian Universita Brawijaya, hadir.

Symposium diselenggarakan oleh Indian Society of Agroforestry, Jhansi  yang bekerjasama dengan Central Agroforestry Research Institute (CAFRI), Jhansi dan ICAR- Indian Council Agricultural research, dan World Agroforestry Centre, South Asia Regional Programme, New Delhi. Symposium dihadiri oleh sekitar 100 orang participant dari berbagai institute di India. Berbagai makalah disajikan dalam oral presentasi dan posters. Symposium dibagi dalam 4 thema utama: (1) Agroforestry systems for climate resilient agriculture, (2) Agroforestry systems for food security and rural livelihood options, (3) Bio-resource and energy management, (4) Scio economic and policy issues in Agroforestry.

img-20161208-wa0003Ketua Research Group Agroforestry Universitas Brawijaya, Profesor Kurniatun Hairiah mempresentasikan makalah berjudul: “Maintaining soil health in smallholder cacao agroforestry systems” sebagai pembicara pertama dalam tema kedua yaitu Agroforestry systems for food security and rural livelihood options pada tanggal 5 Desember 2016, mundur sehari dari jadwal seharusnya akibat cuaca buruk di seluruh India sehingga banyak sarana transportasi mengalami keterlambatan.

Penutupan seminar nasional dilakukan langsung oleh Director CAFRI dan Chief of Scientist ICRAF, Nairobi Profesor Meine Van Noordwijk sekaligus pembagian reward kepada petani yang aktif dalam konservasi lahan, serta pembagian hadiah bagi para pemenang presentasi poster.

Kegiatan berikutnya merupakan training yang dilaksanakan di ICAR-CAFRI, Jhansi, diikuti oleh 35 orang peneliti bergelar doktor dan tenaga pendamping atau LSM yang relevan di area Jhansi. Yang menarik untuk disoroti adalah keseluruhan peserta pelatihan adalah pria.

Tiga narasumber, Prof. Dr. Meine van Noordwijk (Global environmental services), Dr. Betha Lusiana (WaNuLCAS modelling), dan Prof. Dr. Kurniatun Hairiah (ketua RG Agroforestry, Universitas Brawijaya) bertanggung jawab dalam Below-ground Biodiversty, Function and environmental services, dan Carbon measurement in Agroforestry landscape didukung oleh ICRAF South Asia, New Delhi dan ICRAF-Bogor.

img-20161209-wa0002Tujuan pelaksanaan pelatihan adalah meningkatkan (a) pemahaman peserta akan struktur, fungsi, layanan lingkungan, dan value Agroforestry, (b) dan meningkatkan ketrampilan peserta dalam mengestimasi layanan lingkungan.

Sebelum training dimulai Director CAFRI Dr. O.P Chaturvedi memaparkan masalah kekeringan yang dihadapi di wilayah Jhanshi yang merupakan hot-spot area of degraded soil. Intervensi pemerintah telah dilakukan melalui Agroforestry melalui program penanaman pohon buah-buahan (jeruk, mangga, nangka, jambu biji, delima) dan timber (kayu jati) serta tanaman sela serealia seperti gandum, sorghum dan kacang-kacangan serta tanaman pakan rumput napier. Kemudian acara dilanjutkan dengan pemaparan materi ilmiah guna meningkatkan pemahaman peserta akan ecosystem services terkait dengan biodiversitas dan cadangan karbon serta interaksi pohon – tanah – tanaman semusim dan WaNuLCAS (Water Nutrient Light Capture in Agroforestry Systems).

Kunjungan lapangan dilakukan pada hari ketiga mengunjungi wilayah DAS Parasai – Sindth, Jhansi yang merupakan wilayah penelitian CRAFSI. Dr. Ramesh Singh memamaparkan tentang permasalahan yang dihadapi dan keterkaitannya dengan penghitungan PES (Payment Ecosystem Services).

Pengukuran tentang manfaat agroforestry untuk masyarakat disekelilingnya telah banyak dilakukan oleh peneliti CRAFSI, namun demikian nampaknya masih ada beberapa kajian yang masih belum dilakukan yaitu identifikasi pelaku konservasi lanskap dan lahan pertanian dan tempatnya. Dengan demikian, peningkatan pemahaman tentang PES bagi semua peserta masih perlu dilakukan sebelum melakukan perhitungan PES menggunakan model yang ada, demikian respond Prof. Meine van Noordwijk terhadap harapan peserta pelatihan.

img-20161208-wa0001Meningkatnya jumlah pohon yang ditanam dalam lahan pertanian, telah menuntut pengelola untuk memahami akan adanya interaksi antara pohon yang ditanam dengan tanah dan tanaman semusim, agar manfaat pohon dapat diperoleh semaksimal mungkin dan dapat menekan kerugian seminimal mungkin. Dengan demikian, diharapkan Agroforestri memberikan banyak manfaat bagi petani. Peserta pelatihan mencoba mengaplikasikan data yang diperoleh dilokasinya ke dalam model WaNuLCAS, sebagai alat bantu untuk meningkatkan pemahaman peserta akan proses-proses yang cukup complex dalam system Agroroforestri.

Penyelesaian masalah ketersediaan air dan lingkungan dengan meningkatkan keanekaragaman pohon yang ditanam dalam lahan pertanian diharapkan dapat mengoptimalkan serapan air dan mengurangi evaporasi. Namun demikian, penyelesaian masalah lingkungan di tingkat lanskap cukup kompleks yang membutuhkan dukungan pemerintah yang lebih mengedepankan kepentingan hidup masyarakat miskin di pedesaan. Berakhirnya training ini diharapkan menjadi “Lesson Learned” yang bermanfaat untuk meningkatkan pemahaman akan PES bagi para peneliti CRAFSI India. Perjalanan ini dapat dilaksanakan atas undangan dan dukungan dari the World Agroforestry Centre, ICRAF South Asia, New Delhi. [KHR/waw]