Laboratorium Sumber Daya Lingkungan, Jurusan BudidayaPertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya melaksanakan Program 3 in 1 yangkali ini menghadirkan Prof. (R). Ir. Djayadi, MSc., PhD. Praktisi dan Peneliti Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat (Balittas) Kementan RI , Prof Paolo Barberi Professor in Agronomy and Field Crops at the Institute of Life Sciences, Sant’Anna Italia serta Dr. Felix Bianchi dari Wagenigen University.

Kegiatan yang dilaksanakan secara daring ini mengangkat tiga tema yaitu “Teknologi Budidaya Untuk Peningkatan Produksi dan Mutu Tembakau” , “Functional Agrobiodiversity and Agroecological Weed Management” dan “Biodiversity for Natural Enemies and Pest Control” yang terbagi menjadi 4 sesi pertemuan.

Dalam pemaparan materinya Prof.(R). Ir. Djayadi, MSc., PhD. menjelaskan tembakau merupakan komoditas kontroversial, satusisi dianggap merugikan kesehatan namun pada  sisi lain dianggap sebagai sumber pendapatan negara dan sumber pendapatan petani. Tembakau merupakan produk dimana harganya sangat tergantung pada kualitas produk. Jenis tembakau yang dibudidayakan di Indonesia jenisnya beragam dan spesifik lokasi. Areal tanam tembakau di Indonesia tersebar di 15 provinsi, hampir semua pulau besar ada tembakaunya kecuali Kalimantan, Papua, dan sekitar Maluku yang tidak ditanami tembakau, permasalahan  utama dalam budidaya tembakau yaitu keterbatasan luas areal tanam dan belum diterapkannya teknik budidaya yang tepat (GoodAgricultural Practices).

Sedangkan Paolo Barberi meyampaikan bahwa Agrobiodiversitas adalah keanekaragaman baik genetik maupun variasispesies pada hewan, tanaman, dan mikroorganisme yang secara langsung dan tidak langsung bermanfaat bagi agrikultur dan produksi makanan. Agrobiodiversitas terdiri dari dua macam yaitu yang direncanakan oleh petani dan yang terjadi secara alami di alam. Agrobiodiversitas memiliki 3 level yaitu keanekaragaman hayati genetik dalam spesies, keanekaragaman antar spesies, serta keanekaragaman habitat dalam ekosistem. Keanekaragaman hayati yang ada saat ini merupakan salah satu bentuk adaptasi mahluk hidup untuk bertahan hidup dengan kondisi alam yang terus mengalami perubahan.

 Lain halnya  Dr. Felix Bianchi lebih memaparkanpengendalian hama secara alami. Beliau menyampaikan bahwa pengendalian hama dipengaruhi oleh musuh alami, karena 95% dari masalah hama di lahan pertanian dapat diselesaikan dengan adanya peran musuh alami dalam agroekosistem. Akan tetapi sebagian besar praktek pertanian yang diterapkan saat ini telah mendukung munculnya hama dan menekan peran musuh alami. Beliau berpendapat penting untuk mengetahui jenis dan ekologi dari musuh alami serta manajemen agroekosistem yang tepat, sehingga dapat menekan keberadaan hama dalam agroekosistem.

Pengelolaan agroekosistem dalam mendukung keberadaan musuh alami, diantaranya yaitu penerapan sistem tumpangsari dan penanaman tanaman berbunga sebagai border lahan (refugia). Beliau juga menekankan, penggunaan pestisida dalam skala lanskap dapat dilakukan dengan berbagai pertimbangan karena dampak negatifnya terhadap keanekaragaman hayati dalam agroekosistem. Oleh karena itu potensi musuh alami sebagai pengendali hama harus dapat dimaksimalkan.(zma)